Langkah Awal Pemulihan: Asesor c Narkotika Bangli Lakukan Pendalaman Kebutuhan Rehabilitasi Warga Binaan Rutan
Kabar Bangli- Suasana hening namun penuh perhatian menyelimuti ruang layanan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Bangli, Selasa (2/9). Di sana, Tim Asesor dari Lembaga Pemasyarakatan Lapas Narkotika Kelas IIA Bangli dengan cermat melakukan asesmen awal terhadap sejumlah Warga Binaan yang telah lalui tahap skrining sebagai calon peserta program rehabilitasi Pemasyarakatan tahun anggaran 2025.
Kegiatan ini bukan sekadar administratif, melainkan pondasi kritikal dalam menyusun peta pemulihan yang tepat sasaran bagi individu yang berjuang melepaskan diri dari belenggu ketergantungan narkotika. Dengan menggunakan alat ukur Addiction Severity Index (ASI), para asesor melakukan pendekatan komprehensif untuk mengukur tingkat keparahan adiksi serta kondisi sosial-psikologis yang melatarbelakangi.
“Ini adalah langkah pertama dan terpenting. Tanpa asesmen yang mendalam, program rehabilitasi bisa saja berjalan, tetapi tidak necessarily menyentuh akar permasalahan yang dihadapi setiap individu,” ujar Marulye Simbolon, Kepala Lapas Narkotika Bangli. “Kami berkomitmen untuk memastikan setiap Warga Binaan mendapatkan intervensi yang sesuai dengan kebutuhannya, bukan sekadar program yang bersifat satu untuk semua.”

Baca Juga : Dalam Putusan Berkeadilan, Nenek 92 Tahun Divonis Bebas dari Kasus Silsilah
Proses asesmen dilakukan melalui wawancara mendalam secara individual oleh tim asesor yang telah terlatih.
Setiap sesi dibangun atas dasar kerahasiaan dan pendekatan humanis, menciptakan ruang aman bagi Warga Binaan untuk bercerita jujur tentang kondisi mereka—mulai dari riwayat penggunaan zat, status kesehatan mental dan fisik, hingga tantangan keluarga dan lingkungan sosial yang mereka hadapi.
“Kami tidak hanya melihat mereka sebagai ‘pecandu’, tetapi sebagai individu utuh yang memiliki sejarah, tekanan, dan potensi untuk pulih. Pendekatan kami holistik; bagaimana kondisi kejiwaan, keluarga, hingga ekonomi saling berkaitan dalam proses pemulihan,” tambah Marulye.
Dedy Nugroho, Kepala Rutan Bangli, menyambut hangat inisiatif kolaboratif ini. “Sinergi antar-UPT Pemasyarakatan seperti ini penting untuk memastikan pembinaan yang kami lakukan berjalan berkelanjutan dan impactful. Warga Binaan kami bukan lagi melihat penjara sebagai akhir, tetapi sebagai titik balik untuk memulai hidup baru. Program rehabilitasi yang tepat adalah kuncinya.”
Para Warga Binaan pun memberikan respons positif terhadap kegiatan ini.
Banyak dari mereka yang merasa didengarkan dan memperoleh perspektif baru mengenai kondisi mereka sendiri. “Saya jadi lebih mengerti bahwa yang saya hadapi bukan hanya soal berhenti pakai narkoba, tetapi juga harus mempersiapkan mental dan skill agar tidak kembali lagi,” ujar salah satu peserta asesmen.
Langkah selanjutnya, hasil asesmen yang terkumpul akan dianalisis lebih lanjut oleh tim profesional. Data ini akan menjadi dasar dalam menempatkan Warga Binaan pada program rehabilitasi yang paling sesuai, apakah itu terapi perilaku, dukungan konseling intensif, pelatihan vokasional, atau kombinasi dari beberapa pendekatan.
Kegiatan asesmen awal ini merefleksikan perubahan paradigma dalam sistem pemasyarakatan Indonesia—dari yang bersifat retributif (penghukuman) menjadi lebih restoratif (pemulihan). Dengan fokus pada rehabilitasi yang evidence-based dan berpusat pada individu, diharapkan para Warga Binaan dapat kembali ke masyarakat bukan sebagai orang yang terlabeli, tetapi sebagai pribadi yang pulih, produktif, dan siap memberikan kontribusi positif.














